
Inilah kisah KH. Ahmad Shobari, seorang Ulama besar dari Ciwedus, desa Timbang Kabupaten Kuningan Jawa Barat.
Beliau adalah salah satu santri Syaikhona Moh. Kholil Demangan Bangkalan, Madura.Ketika beliau diantarkan oleh keluarganya untuk menimba ilmu di bangkalan, gurunya tidak menyuruh dia ikut ngaji, tapi justru beliau disuruh mengurusi kambing milik sang guru.
KH Ahmad Shobari menurut saja tanpa banyak tanya. Dirinya menggembala kambing hingga 15-tahunan karena Ta’dzim.
Singkat cerita, Keluarganya dari Kuningan ingin menjemput mama Shobari, karena memang sangat dibutuhkan untuk menyebarkan agama Islam di Ciwedus Kuningan. Namun ketika mereka sowan kepada mama Kholil, mama Kholil merasa kebingungan, “Sebelumnya mohon maaf, ini anak kan belum pernah ngaji, satu lembar kitab pun, selama 12 tahun dia menggembala kambing saya di Hutan”, tutur mama Kholil.
“Lantas harus bagaimana mama?”, tanya keluarga mama Shobari kepada mama Kholil. “Tunggu Sebentar yah”, jawab mama Kholil sambil pergi ke belakang untuk mengambil air Laut yang beliau tuangkan dalam gelas. “Shobari!!! minum Air Laut ini, kalau rasanya manis maka kamu akan selamat, kalau rasanya tetap asin maka mama akan menyembelih kamu didepan keluargamu ini”, titah mama Kholil.
Lalu mama Shobari meminumnya sambil gemetaran,tapi tetap dengan penuh keberanian. Sementara gurunya serta keluarganya pun ikut cemas penuh kekhawatiran. “Rasanya asin mbah….” kata mama Shobari. “Coba sekali lagi minum Shobari, brangkali manis!!!” titah mbah Kholil. “Tetap asin Mbah…”. Beberapa kali di tanyai rasa air laut itu jawabannya sama tetap”asin”.

Mama Shobari pasrah dan langsung berkata “Silahkan sembelih leher saya mbah, hamba ikhlas, ridlo kalau memang itu perintah dan keinginan mbah”.Kemudian mama Kholil mengucurkan air mata sambil mengusap kepala mama Shobari, “Silahkan Shobari engkau pulang, bawalah seluruh ilmu mbah, kembangkanlah agama islam di daerahmu, karena sesungguhnya engkau telah lulus melewati ujian yang mbah berikan, engkau telah mengatakan apa yang sebenarnya harus engkau katakan, tanpa rasa takut apapun, manis engkau katakan manis, asin engkau katakan asin”, tutur mbah Kholil.
Akhirnya mama Shobari dan keluarganya pamit, dan sesampainya di ciwedus Kuningan beliau langsung meneruskan pesantren leluhurnya dan mengajarkan ilmu agama.Karena kemasyhurannya, para santri yang ingin mengaji berdatangan dari berbagai daerah,termasuk Ulama-ulama kharismatik seperti seperti Ayah Banjar, Mama Keresek Garut, Mama Sudja’i Tasik.
Segiat apapun kita mengaji, kalau tidak diiringi rasa Khidmat kepada sang Guru,maka kemungkinan kita tidak akan mendapatkan Keberkahan & kemanfa’atan ilmu yang kita kaji. Na’udzubillahi min Dzalik Tsumma Na’udzubillahi min Dzalik.
Lamun hayang bisa ngaji kudu daek ngaji jeng kudu getol ngaji, Lamun hayang manfaat ilmu kudu daek ngakhidmah ka guru.(Kalo mau bisa ngaji harus mau ngaji dan rajin,Kalo Mau manfaat ilmu harus berbakti/khidmat kepada sang guru.
Barokah guru kunci keberhasilan dalam mencari ilmu.
Mohon Maaf apabila banyak kesalahan, Semoga Bermanfa’at… Amin…